laporan praktikum taksonomi hewan
Identifikasi Karakter Morfologi Spesimen
Porifera dan Cnidaria di Pantai Tanjung Papuma, Jember
Ririn Dewi Astutik
Tadris Biologi, FTIK, IAIN Jember
NIM:
T20158025
ABSTRAK
Indonesia merupakan pusat keragaman terumbu
karang dunia termasuk di dalamnya porifera berupa spons laut dan Cnidaria
berupa Coral. Porifera merupakan
hewan yang berpori dan sering juga disebut hewan berongga karena seluruh
tubuhnya dipenuhi oleh lubang-lubang kecil yang disebut dengan pori. Spons
merupakan salah satu hewan primitif yang hidup menetap dan bersifat filter
feeder (menyaring makanan). Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang
yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga. Koral adalah sekelompok hewan
dari ordo Scleractinia yang mengahsilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu.
Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter morfologi spesimen
Porifera dan Cnidaria berdasarkan kunci identifikasi, mengklasifikasikan
spesimen Porifera dan Cnidaria, dan membuat dendogram spesimen Porifera dan
Cnidaria. Metode yang kami lakukan ialah pertama mengambil sampling untuk
spesimen porifera dan cnidaria untuk dijadikan praktikum. Hasil yang kami
peroleh ialah 2 spons laut dengan spesies yang berbeda diantaranya Spongila
lacustris dan spons spesies X begitu juga dengan coral, kami
menemukan 2 jenis coral yaitu Leptastrea purpurea dan Acropora
caroliniana.
Kata kunci: porifera/Cnidaria/spons/karang

.
PENDAHULUAN
Praktikum
ini dilakukan agar mahasiswa dapat mengidentifikasi karakter morfologi spesimen
Porifera dan cnidaria yang di ambil dari perairan tanjung Papuma, Jember. Dala
hal ini berkaitan dengan ayat alquran surah an-Nur ayat 41.
وَاللهُ خَلَقَ كُلَّ
دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ, فّمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِى عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِى
عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِى عَلَى اَرْبَعٍ, يَخْلُقُ اللهُ مَا يَشَاءُ,
اِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.
Artinya: “Dan Allah telah
menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang
berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengam dua kaki sedang bagian
yang lain berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang
dikehendakinya, sesungguhnya allah maha kuasa atas segala sesuatu.”
Maksud dari “hewan
itu ada yang berjalan di atas perutnya” ialah menunjukkan bahwa Allah telah
menciptakan hewan invertebrata diantaranya ada Porifera dan Cnidaria.
Di dunia
terdapat sekitar 10.000 spesies porifera, di Indonesia diperkirakan sebanyak
850 spesies sampai 1500 spesies. Secara ekologi, porifera merupakan salah satu penyusun pada ekosistem pesisir dan
laut, terutama pada ekosistem terumbu karang dan padang lamun yang umumnya
dijumpai di perairan tropik dan subtropik, (Haris, 2013).
Porifera merupakan
hewan yang berpori dan sering juga disebut hewan berongga karena seluruh
tubuhnya dipenuhi oleh lubang-lubang kecil yang disebut pori. Hewan ini masih
tergolong hewan sederhana karena selama hidupnya menetap pada karang atau
permukaan benda keras lainnya di dasar laut. Porifera sering ditemukan hidup melekat pada substrat yang keras
dan hidupnya berkoloni yang statif atau tidak bergerak. Porifera yang lebih
kompleks memiliki dinding tubuh yang berlipat-lipat, dan banyak yang memiliki
kanal air yang bercabang-cabang dan beberapa oskulum, ( Campbell, 2008 ).
Porifera merupakan
hewan multiseluler yang paling
sederhana. Porifera sudah
terdapat pembagian tugas kehidupan (diferensiasi), hal ini mencirikan organisme
tersebut mempunyai tingkat yang lebih tinggi dari filum protozoa. Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton.
Makanan yang masuk ke tubuh dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga
sebagai pemakan cairan, dengan proses air ditarik melalui pori-pori ke dalam
ronga tengah, spongosol, dan
kemudian mengalir keluar dari sponge melalui bukaan yang lebih besar disebut oskulum. (Haedar, dkk, 2016).
Spons
tampak sebagai hewan sederhana, tidak memiliki jaringan, sedikit otot maupun
jaringan saraf serta organ dalam. Hewan tersebut memberikan sumbangan yang penting
terhadap komunitas bentuk laut dan sangat umum dijumpai di perairan tropik dan
sub tropik. Persebaran mulai dari zona intertidal hingga zona subtidal suatu
perairan. (Subagio dan Aunurohim, 2013)
Sponge adalah salah satu hewan dari filum porifera.
Sponge merupakan invertebrata laut yang hidup pada ekosistem terumbu karang (Suryati, 2000). Sponge merupakan
biota laut multi sel yang fungsi jaringan dan organnya sangat sederhana.
Habitat sponge umumnya adalah menempel pada pasir, batu-batuan dan
karang-karang mati. Biota laut ini dikenal dengan "filter feeders",
yaitu mencari makanan dengan mengisap dan menyaring air melalui sel cambuk dan
memompakan air keluar melalui oskulum, serta mendapatkan partikel-partikel
makanan seperti bakteri, mikroalga dan detritus yang terbawa oleh aliran air
(Amir, 1996).
Adapun karakteristik sponge secara umum adalah
memiliki bentuk tubuh yang tidak simetris, tubuh terdiri atas banyak sel,
sedikit jaringan dan tidak ada organ tubuh. Sel dan jaringan mengelilingi suatu
ruang yang berisi air tetapi sebenarnya tidak memiliki rongga tubuh, dan tidak
memiliki sistem saraf. Semua spesies sponge bersifat sesil sebagai organisme
dewasa, sedangkan pada tahap larva bersifat planktonik (Ramli, 2010).
Habitat sponge yang melekat pada pasir atau bebatuan
menyebabkan hewan ini sulit untuk bergerak. Suatu cara untuk mempertahankan
diri dari serangan predator dan infeksi bakteri pathogen, sponge mengembangkan
system "biodefense" yaitu dengan menghasilkan zat racun dari
dalam tubuhnya, zat ini umumnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan farmasi
(Yasakti, 2017).
Spons merupakan kelompok hewan dari filum porifera
yang terdiri atas tiga kelas, yaitu Hexactinellida, Demospongiae, dan Calcarea.
Kelas Hexactinellida sering disebut dengan sponge gelas, dan kebanyakan hidup
di laut dalam dan tersebar luas. Demospongiae adalah kelompok sponge yang
paling dominan diantara beberapa kelas sponge yang lain. Kelas Demospongiae
tersebar luas di alam, serta jumlah jenis maupun organismenya sangat banyak.
Calcarea merupakan sponge yang kesemua anggota kelasnya hidup di laut. Sponge
ini mempunyai struktur sederhana dibandingkan jenis lainnya (Yasakti, 2017).
Tubuh sponge terdiri dari jelly seperti mesohyl yang
terjepit di antara dua lapisan tipis sel. Sponge memiliki ciri yaitu tubuhnya
berpori seperti busa. Di dalam tubuhnya terdapat rongga tubuh yang disebut
spongosol. Sponge tidak memiliki saraf, pencernaan atau sistem peredaran darah.
Sebaliknya, sebagian besar mengandalkan aliran air konstan melalui tubuhnya
untuk mendapatkan makanan dan oksigen serta untuk menghilangkan limbah. Sponge
hidup di air laut dan air tawar, tetapi kebanyakan hidup di laut mulai dari
daerah perairan pantai yang dangkal hingga kedalaman 1000 m. Hidupnya selalu
melekat pada substrat (sesil) dan tidak dapat berpindah tempat secara bebas
(Darmadi, 2011).
Struktur tubuh sponge terdiri dari dua lapisan yaitu
epidermis dan
endodermis. Epidermis (lapisan luar) terdiri dari
sel-sel epitelium berbentuk pipih (pinakosit).
Endodermis terdiri dari sel berflagela yang berfungsi mencerna makanan dan bercorong yang disebut sel leher atau koanosit. Diantara kedua lapisan itu terdapat bahan gelatin yang disebut mesoglea (Tanaka, 2002).
Bentuk tubuh sangat bervariasi yaitu ada yang
menyerupai kipas, batang, terompet dan lainnya, hewan ini sebagian membentuk
koloni yang sering tampak tidak teratur sehingga tampak sebagai tumbuhan.
Warnanya bermacam-macam dan dalam tubuhnya mengandung ganggang yang memiliki
warna dan mereka mengadakan simbiosis (Hooper, 2003).
Umumnya hewan sponge berkelamin ganda (hermaprodit),
tetapi memproduksi sel telur dan sel spermanya pada waktu yang berbeda. Hewan
ini dapat juga berkembangbiak (reproduksi) secara aseksual (fragmentasi) (Amir,
1996).
Komunitas
spons laut disuatu wilayah perairan mampu menjadi salah satu bioindikator
kualitas perairan laut mengingat sifat dari spons laut yang immobile serta
persebaran telur dan larvanya akan selalu terbatasi oleh barrier yang ada mengharuskan
spons tersebut selalu beradaptasi terhadap komponen- komponen fisik maupun
biotik yang terdapat pada wilayah tersebut. Salah satu interaksi ekologis inter
spesies yang mampu mempengaruhi komposisi struktur komunitas spons (Porifera)
adalah kompetisi ruang antara spons dan organisme benthik lain terutama coral
(Subagio dan Aunurohim, 2013).
Filum
Cnidaria memiliki organ intraselular yang unik dalam jaringan tubuh
ektoderemnya, yaitu cnidae yang akan dilepaskan keluar tubuhnya jika ada
rangsangan dari lingkungan dimana fauna ini tinggal. Cnidae digunakan untuk
menangkap mangsa melawan predator, menyerang cnidaria lainnya yang berada
disekitarnya, atau untuk melekatkan tubuhnya pada substrat yang cocok selama
proses setelmen. Cnidae ini terkandung dalam sebuah sel yang disebut cnidocyte.
Cnidae dibagi ke dalam tiga kategori utama, yaitu nematosit, spirosit dan ptikosit.
Nematosit terdapat di seluruh anggota filum cnidaria. Sedangkan spirosit dan
ptikosit hanya dibatasi pada beberapa anggota ini (Paruntu, dkk, 2013).
Cnidaria
disebut juga coelenterata karena memiliki rongga tubuh yang berfungsi sebagai
alat pencernaan (gastrovaskular). Dalam bahasa yunani, cnido berarti penyengat,
karena sesusai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat. Sel penyengat
terletak pada tentakel yang terdapat di sekitar mulutnya. Cnidaria memiliki
struktur tubuh yang lebih kompleks. Sel-sel cnidaria sudah terorganisasi
membentuk jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf sederhana (Lestari,
2015).
Karang
merupakan hewan hidup filum Invertebrata seperti halnya ubur-ubur, yang dikenal sebagai cnidaria.
Karang yang
terkecil
disebut polip. Ukuran polip bervariasi, yaitu kurang dari 1 mm hingga 15 cm lebih.
Sebagian besar karang hidup berkoloni
yang terdiri atas ribuan polip dalam sebuah struktur karang. Namun ada pula jenis
karang yang hidup soliter
sebagai polip
tunggal. Karang menggunakan kalsium dan molekul karbonat dari air laut untuk membentuk
kerangkanya.
Alga
berukuran mungil yang disebut zooxantela atau alga simbiotik, tumbuh di dalam
struktur karang. Keberadaan zooxantela
dalam struktur karang membuat karang tampak berwarna dan memberinya energi untuk tumbuh.
Zooxantela tumbuh pada sel-sel dalam jaringan karang. Zooxantela menggunakan
energi dari sinar matahari untuk mengubah produk sisa metabolik karang menjadi
energi yang dibutuhkan karang untuk tumbuh. Proses ini disebut fotosintesis.
Agar dapat tumbuh sehat terumbu karang memerlukan sinar matahari dan perairan
yang jernih (Dean dan Kleane, 2012).
Pada
cnidaria reproduksi vegetatif dan generatif berlangsung secara metagenesis
(bergiliran). Secara vegetatif yaitu dengan membentuk tunas dan polip, dan
secara generatif yaitu dengan menghasilkan ovum (gamet betina) dan spermatozoid
(gamet jantan) yang dihasilkan cnidaria berbentuk medusa.
Cnidaria
umumnya hidup di laut, hanya beberapa jenis yang hidup di air tawar. Dalam
siklus hidupnya ia dapat berbentuk polip yaitu hidup menempel pada suatu
substrat atau berbentuk medusa yang bebas berenang. Bentuk polip tubuhnya
berbentuk silindris. Cnidaria merupakan hewan yang belum memiliki anus. (Jasin,
2000)
Polyps and
medusas appear radially symmetrical, but anthozoans are biradially or bilaterally symmetrical.
They are biradial when the slit-like
stomodeum and pharynx
have
ciliated grooves (siphonoglyphs or sulci) at both ends, and bilaterally symmetrical
when a siphonoglyph appears at one
end. Tentacles and pairs of mesenteries, or septa, linking the body wall to the
pharynx and partitioning the coelenteron, are also biradially or bilaterally
arranged (Shostak, 2005).
Filum
Cnidaria terbagi menjadi tiga yaitu Hydrozoa, Schiphozoa, dan Abthozoa.
Hydrozoa merupakan hewan yang sebagian besar hidup di laut dan terdapat
sebagian dari spesiesnya hidup di air tawar. Hydrozoa hidup sebgai polip,
medusa atau keduanya. Gastrodermis hydrozoa tidak mengandung nematosida.
Scyphozoa hidup di laut dan merupakan ubur-ubur sejati karena medusa mempunyai
bentuk dominan dalam siklus hidupnya. Anthozoa merupakan hewan laut yang
mempunyai bentuk mirip bunga. Anthozoa hidup sebagai polip soliter atau
berkolono dan tidak memilki bentuk medusa. Terdapat anthozoa yang membentuk
rangka dalam atau rangka luar dari zat kapur (Irnaningtyas, 2013).
Porifera dapat mengembalikan
kualitas air. Hal ini dapat dibuktikan karena, zat-zat yang tidak berguna yang berada di sekitar porifera bisa tersedot melalui
pori-pori, dan porifera akan menyaringnya. Manfaat lainnya yaitu
sebagai sarana untuk berkembangbiak dan mencari makanan bagi beberapa hewan
laut; Sebagai makanan hewan laut lainnya
dan sebagai tempat bersembunyi beberapa hewan laut dari predator. Peran
Cnidaria diantaranya adalah pertumbuhan batu karang di pantai dapat menahan
abrasi daratan oleh ombak; Kerangkanya dapat digunakan sebagai gelang; Tempat
perkembangbiakan biota laut dan menjadi habitat ikan dan hewan laut lainnya
(Mubarok, 2018).
Peranan–peranan tersebut
sangat jelas tercantum dalam firman Allah SWT:

Artinya: “Dan Dia-lah, Allah
yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging
yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu
pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari
(keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”. (QS: An-Nahl:
14)
Untuk mengetahui karakter
morfologi spesimen Porifera dan Cnidaria di perariran Tanjung Papmua Jember,
maka kami melakukan pengamatan untuk mengidentifikasi spesiemen Porifera dan
Cnidaria salah satu nya dengan menggunakan kunci identifikasi. Sehinnga kita
bisa mengklasifikasikan spesimen porifera dan Cnidaria.
METODE PENELITIAN
Praktikum yang kami lakukan tentang “Identifikasi Karakter
Morfologi Spesimen Porifera dan Cnidaria di Pantai Tanjung Papuma Jember”
dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 7 Maret 2018 untuk pengambilan sampling
yang bertempat di Tanjung Papuma Jember. Dan pada hari senin tanggal 12 Maret
2018 melakukan pengamatan yang bertempat di LAB Terpadu IAIN Jember.
Alat-alat yang kami gunakan pada saat praktikum antara
lain: alat seksi, papan seksi, kaca pembesar (loup), buku identifikasi, lembar
pengamatan dan alat tulis. Sedangkan bahan-bahan yang kami gunakan antara lain:
spesimen Porifera dan spesimen Cnidaria.
Prosedur kerja pada saat pengamatan
spesimen porifera dan spesimen Cnidaria: pertama, menyiapkan alat dan bahan,
kedua, meletakkan spesimen di atas papan seksi. Selanjutnya, mengamati spesimen
dengan kaca pembesar (loup). Kemudian mencatat karakter morfologi yang meliputi
bentuk tubuh, warna tubuh, simetri tubuh, tipe skeleton, dan tipe kanal. Serta
menggambar secara skematis spesimen porifera dan spesimen Cnidaria beserta
keterangannya. Lalu menulis klasifikasinya serta menganalisis hasil pengamatan.
HASIL
Berdasarkan pengamatan yang kami lakuakan tentang
“Identifikasi Karakter Morfologi Spesiemen Porifera dan Cnidaria di pantai
Tanjung Papuma Jember” diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 1. Pengamatan Spesimen Porifera
Porifera
Lokasi:
Pantai Tanjung Papuma Jember
|
|
Gambar
|
Keterangan
|
(Spongila
lacustris)
Gambar 1. Dokumentasi Pribadi
Gambar 2. Dokumentasi literatur
Gambar 3. Dokumentasi Hasil Tangan
|
Klasifikasi:
Ø
Kingdom: animalia
Ø
Filum: porifera
Ø
Kelas: demospongiae
Ø
Ordo: haplusclenida
Ø
Famili: spongillidae
Ø
Genus: Spongilla
Ø
Spesies: Spongila lacustris
Karakter
Morfologi
Ø
Bentuk tubuh: silindris
Ø
Warna tubuh: hijau kecoklatan
Ø
Simetri tubuh: asimetri
Ø
Tipe spikula: diactinal monaxon
Ø
Tipe kanal: asconoid
|
(Spesies
X)
Gambar 4. Dukumentasi Pribadi
Gambar 5. Dokumentasi Hasil Tangan
|
Karakter morfologi:
Ø
Bentuk tubuh: silindris
Ø
Warna tubuh: hijau kecokalatan
Ø
Simetri tubuh: asimetri
Ø
Tipe kanal: asconoid
Ø
Tipe spikula: manactinal monaxon
|
Tabel 2. Pengamatan Spesimen Cnidaria
Cnidaria
Lokasi:
Pantai Tanjung Papuma Jember
|
|
Gambar
|
Keterangan
|
(Acropora caroliniana)
Gambar 6. Dokumentasi Pribadi
Gambar
7. Dokumentasi Literatur
Gmabar
8. Dokumentasi Hasil Tangan
|
Klasifikasi:
Ø Kingdom:
Animalia
Ø Filum:
Cnidaria
Ø Kelas:
Anthozoa
Ø Ordo:
Scleractunia
Ø Famili:
Acroporidae
Ø Genus:
Acropora
Ø Spesies:
Acropora caroliniana
Karakter
Morfologi:
Ø Bentuk
tubuh: rudral karolit
Ø Warna
tubuh: bleaching
Ø Simetri
tubuh: asimetri
Ø Tahap
pertumbuhan: brancing
Ø Tipe
carolite: phaceloid
|
(Leptastrea purpurea)
![]()
Gambar 9. Dukumentasi Pribadi
Gambar 10. Dokumentasi literatur
Gambar 11. Dukumnetasi Hasil Tangan
|
Klasifikasi:
Ø
Kingdom: animalia
Ø
Filum: cnidaria
Ø
Kelas: anthozoa
Ø
Ordo: Sclerectina
Ø
Famili: favidae
Ø
Genus: Leptastrea
Ø
Spesies: Leptastrea purpurea
Karakter morfologi:
Ø
Bentuk tubuh: besar, berongga,
tepi segitiga bulat.
Ø
Warna tubuh: bleaching
Ø
Simetri tubuh: radial/asimetris
Ø Tahap
individu: polip
Ø Tipe
pertumbuhan: Encrusting
Ø Tipe
carolite: cerioid
|
PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data yang diperoleh dari hasil
pengamatan (dapat dilihat pada gambar dan tabel), maka dapat diketahui bahwa
porifera memilki banyak spesies yang berbeda diantaranya ada Spongila
lacustris dan Spesises X, kami menamakan spesies X karena kami belum
menemukan literatur yang jelas, dilihat dari karakteristiknya di duga mirip
porifera. Begitu pula dengan Cnidaria memiliki banyak spesies diantaranya Acropora
caroliniana dan Leptastrea purpurea.
Pada spesimen Porifera jenis Spongila lacustris
masuk ke dalam kelas Demospongiae.
Demospongiae adalah kelompok sponge yang paling
dominan diantara beberapa kelas sponge yang lain. Kelas Demospongiae tersebar
luas di alam, serta jumlah jenis maupun organismenya sangat banyak. Mereka
sering berbentuk masif dan berwarna cerah dengan sistem saluran yang rumit,
dihubungkan dengan kamar-kamar bercambuk kecil yang bundar. Tubuh sponge ini
berwarna cerah karena mengandung pigmen yang terdapat pada amoebosit. Fungsi
warna diduga untuk melindungi tubuhnya dari sinar matahari. Spikulanya ada yang
terdiri dari silikat dan ada dari beberapa ordo yaitu Dictyoceratida,
Dendroceratida dan Verongida spikulanya hanya terdiri serat spongin, dan serat
kollagen. Bentuk tubuh sponge ini tidak beraturan dan banyak yang bercabang.
Tinggi dan diameternya ada yang mencapai lebih dari 1 meter (Suparno, 2005).
Habitat
Demospongiae umumnya di laut dalam maupun dangkal, meskipun ada yang di air
tawar. Demospongiae adalah satu-satunya kelompok porifera yang anggotanya ada
yang hidup di air tawar. Demospongiae merupakan kelas terbesar yang mencakup
90% dari seluruh jenis porifera. (Hooper, 2003). Salah satu contoh Demospongiae
adalah Spongila lacustris.
Spongila lacustris mimiliki bentuk tubuh yang silindris. Warna tubuhnya
hijau kecoklatan. Sponge berwarna hijau ini biasanya disebabkan oleh adanya algae
simbiotik yang disebut zoochlorellae yang terdapat di dalamnya. Warna sponge
tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh fotosintesis makrosimbionnya.
Makrosimbion sponge pada umumnya adalah Cyanophyta (Cyanobacteria dan eukariot
algae seperti dinoflagellata atau zooxanthella). Simetri tubuhnya yaitu asimetri. Tipe spikula berupa
Diactinal monaxon. Serta tipe kanal yang dimilikinya berupa asconoid. Tipe
kanal jenis ini merupakan jenis yang paling sederhana dari sistem saluran air
porifera. Hal ini ditunjukkan oleh spons sperti spesies Spongila lacustris.
Dinding mengandung banyak pori-pori yang disebut dengan ostia. Pori-pori ini
adalah intraseluler karena setiap pori dibentuk oleh porforasi satu sel disebut
porocyte. Semua ostia terbuka ke dalam rongga pusat yang disebut spongocoel dan
oleh pembukaan melingkar besar yang disebut osculum.
Spesies Acropora caroliniana dan Leptastrea
purpurea masuk ke dalam kelas Anthozoa. Anthozoa hidup sebagai polip
soliter atau berkoloni dan tidak memiliki bentuk medusa. Ada anthozoa yang
membentuk rangka dalam atau rangka luar dari zat kapur, namun ada pula yang
tidak membentuk rangka. Terdapat sekitar 6100 spesies Anthozoa.
Pada spesimen Cnidaria spesies Acropora caroliniana
memilki bentuk morfologi koloni bercabang dengan bentuk percabangan pendek
dengan cabang runcing, axial koralit tidak beraturan dan radial koralit kecil
dan warma dari spesies ini putih ke abu-abu an / bleaching. Karakter dari Acropora
caroliniana yaitu koloni berbentuk meja yang tebal dengan percabangan ke
atas yang pendek dan gemuk. Percabangan sekunder dan warna dari spesimen ini
yaitu coklat muda, atau putih kekuningan atau bleaching.
Pada spesimen Cnidaria spesies Leptastrea purpurea
memiliki bentuk morfologi koloni berbentuk padat dan kecil bentuk koralit
berdekatan menjadi satu atau cerioid dan membentuk sudut yang tumpul. Warna
dari spesies ini yaitu putih/ bleaching. Karakter dari Leptastrea purpurea yaitu
koloni massive atau merayap dan koralit cerioid dengan ukuran yang bervariasi.
Septa mempunyai ketebalan yang relatif sama tersusun rapi dengan dinding yang
tebal. Warna Leptastrea purpurea yaitu coklat, abu-abu, atau keputihan
dan distribusinya umum dijumpai, tersebar di seluruh perariran indonesia.
SIMPULAN
Berdasarkan pengamatan spesimen Porifera
dan Cnidaria di dapatkan 2 jenis porifera yaitu Spongila lacustris dan Spesies
X. Dan juga di dapatkan 2 jenis Cnidaria yaitu Leptastrea purpurea
dan Acropora caroliniana.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, I. dan Budiyanto, A. 1996. Mengenal Spons Laut
(Demospongiae) Secara Umum. Jurnal Osean.
XXI (2): 15-31.
Campbell. 2008. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Darmadi. 2011. Eksplorasi Spons (Porifera).
Marine science. Universits Padjajaran.
Dean, Angela dan Kleine, Diana. 2012. Buku Kegiatan
Terumbu Karang dan Perubahan Iklim. CoralWatch The University Of
Queensland.
Haedar, dkk. 2016. Potensi dan Keanekaragaman Jenis
dan Sebaran Spons di Perairan Pulau Saponda Laut Kabupaten Konawe. Sapa Laut.
Vol 1 (1). 1-9.
Haris, A. 2013. Biologi dan Ekologi Sponge.
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Makassar: Universitas Hasanuddin.
Hooper, J.N.A and Soest, R.W.M.V. 2003. Systema
porifera a guide to the classification of sponges. Journal Biol. Univ.
Genov. (68): 19-38.
Irnaningtyas. 2013. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Jasin, M. 2000. Sistematika Hewan Vertebrata dan
Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya.
Lestari, Emi. 2015. Laporan Praktikum Sistematika
Hewan II. Purwokerto: Univesitas Jenderal Soedirman.
Mubarok, Husni. 2018. Panduan Praktikum Taksonomi
Hewan. Jember: IAIN Jember.
Paruntu, Carolus P. 2013. Nematosit dari Tiga Spesies
Karang Scleractinia, Genus Pocillipora. Jurnal Perikanan dan Kelautan
Tropis. Vol IX-2. 60-64.
Ramli. 2010. Distribusi dan Kepadatan Spons pada
Beberapa Pulau di Perairan Kota Makassar. Thesis. Fakultas Ilmu Kelautan
dan Perikanan. Makassar: UNHAS.
Shostak, stenley. 2005. Cnidaria (Coelenterates).ResearchGate.
USA: University of pittsburgh.
Subagio, Iwanda Bella dan Ainurohim. 2013. Struktur
Komunitas Spons Laut (Porifera) do Pantai Pasir Putih, Situbondo. Jurnal
SAINS dan Seni POMITS. Vol 2. No 2. 159-165.
Suparno. 2005. Kajian Bioaktif Spons Laut (Porifera
: Demospongiae) Suatu Peluang Alternatif Pemanfaatan Ekosistem Karang
Indonesia dalam Bidang Farmasi. Makalah Pribadi Falsafah Sains.
Sekolah Pasca Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Suryati, Parenrengi A. dan Rosmiati. 2000. Penapisan
Serta Analisis Kandungan Bioaktif Sponge Clathria sp. yang efektif
sebagai Antibiofouling pada teritif (Balanus amphitrit). Jurnal
Penelitian Perikanan Indonesia. Vol VI (3).
Tanaka, J., Aoki, S., Higa, T., Kobayashi, M.,
Rachmaniar, R., dan De Voogd, N.J. 2002. Indonesian Marine Sponges.
Osaka: University Osaka.
Yasakti, Ebit. 2017. Analisis Keanekaragaman Beta
Sponge (porifera) di Perairan Pulau-Pulau Kecil Selat Buton Kabupaten Muna
Sulawesi Utara. Skripsi. Jurusan Biologi. Kendari: Universitas Halu
Oleo.
Komentar
Posting Komentar